Berburu Kopi Karuhun

By  |  0 Comments

Tanah Sunda (Jawa Barat) terkenal dengan varian kopi ‘tua’nya yang bahkan pohonnya bisa berusia 80-90 tahun. Ada nama-nama seperti kopi Puntang dan kopi Si Jagur yang diperkirakan berasal dari puluhan tahun lalu.

Sebagian besar orang mempercayai kopi ‘tua’ yang berusia 80-90 tahun ini adalah jenis kopi Arabica yang bertahan dari wabah penyakit karat daun pada tumbuhan kopi yang nyaris menyebabkan kopi di Tanah Jawa punah. Kopi yang selamat dan tumbuh lebat ini mereka sebut sebagai kopi Buhun, kopi tua khas tanah Sunda .

Salah satu daerah terkemuka dari tempat ditemukannya kopi yang bertahan hidup adalah di Sumedang Jawa Barat. Tak pelak tim rasakopi.com menjadi terusik keingin tahuannya saat seorang petani di Kramat Nangtung Sumedang menyatakan di areal persawahannya, di areal gunung di kawasan Cadas Pangeran, dapat ditemukan jenis kopi tua ini.

“Ada sekitar 4 pohon kopi yang saya perkirakan berusia sekitar 50 tahunan, “ujar sang petani Asep Sutrisna kepada rasakopi.com. Tak berpikir panjang reporter rasakopi.com Ferry Putra Utama mengatur janji untuk bersama-sama berangkat ke Sumedang untuk memulai perburuan kopi tua tersebut. Tetapi untuk menghindari kebingungan apalagi kerancuan, Asep dan tim rasakopi.com memutuskan menyebut nama kopi tersebut bukan sebagai kopi buhun melainkan kopi karuhun alias kopi leluhur. Perburuan kopi karuhun pun dimulai.

Tim rasakopi.com dan Asep akhirnya sampai di kawasan Kramat Nangtung pada hari Senin siang 8 April 2019. Kawasan dengan jalan terjal dan licin ini dinamai kramat karena di areal tersebut setidaknya terdapat 2 makam keramat anak keturunan Raja Kerajaan Padjadjaran yang terkenal Prabu Siliwangi. Sesuai dengan namanya, daerah ini terlihat sunyi bahkan ‘angker’ dengan kehadiran makam-makam tersebut.

Desa Kramat Nangtung yang Jauh dari Keramaian

Selepas memarkirkan mobil minibus ala”4×4” tunggangan Asep, kami memasuki areal persawahan milik keluarga Asep yang hampir menguasai separuh lereng gunung yang ada di sana. Asep mencoba mengingat-mengingat di mana letak pohon kopi yang sudah ada semenjak dirinya kecil. Menurut Asep, ada seorang pekerja ayahnya yang berusia 15 tahun tatkala peohon kopi itu masih berpokok kecil. Sementara sang pekerja itu sekarang telah berusia 68 tahun.Jadi setidaknya pohon kopi karuhun yang kami cari itu berusia 53 tahun atau lebih.

“Ada pekerjanya ayah saya yang saat pohon kopi itu berbatang kecil masih berusia 15 tahun kala itu. Sekarang dia sudah punya banyak cucu,” ujar Asep. Kami mencoba mencari sang pekerja yang dimaksud yang ternyata bernama Dede.

Pucuk Dicinta Ulam Tiba. Tidak harus menunggu lama kami sudah bisa menjumpai Mang Dede, Dede biasa dipanggil. Setelah mengobrol soal kondisi sawah dan rencana panen yang segera datang, Asep mengenalkan saya dengan Dede. Dan obrolan soal kopi Karuhun pun dibuka. Dede membenarkan dirinya masih sangat muda saat kopi karuhun yang berada di areal persawahan Asep ditanam. Dede sudah kesulitan untuk mengingat umurnya saat pohon kopi itu ditanam. Namun Dede tidak menampik kalau umur pohon kopi tersebut diperkirakan di atas 50 tahun. Selanjutnya Dede mencoba mengingat-ingat di mana saja pohon kopi itu tumbuh.

Dede Tengah Berbincang dengan Asep

Ada 4 pohon di atas bukit sana. Dede menunjuk puncak bukit yang cukup terjal di areal atas persawahan milik keluarga Asep.”Melihat kami tidak begitu berminat untuk mendaki ke atas, Dede mencoba untuk mengingat tempat lainnya di mana kopi karuhun tumbuh. “Ada juga 2-3 pohon di samping sana, “ ujar Dede.

Pencarian Kopi Karuhun Melewati Onak Belukar

Kamipun bersama Dede mencoba mencari batang-batang pohon kopi yang tersisa di tempat yang masih diingatnya. Cukup sulit mengingat posisi pohon yang sudah puluhan tahun dibiarkan terlantar tanpa diurus. Tapi “dewi fortuna” sepertinya sedang mengiringi kami, tidak sampai 1 jam akhirnya kami menemukan pohon yang dimaksud Dede. Tidak seperti pohon kopi biasanya, meskipun tidak dirawat, batang pohon kopi karuhun menjulang tinggi bahkan melebihi tinggi pohon kopi biasa. “Tah eta pohon na (itu pohonnya),” kata Dede. Menurut Dede bahkan batang pohon kopi karuhun yang ada di atas bukit menjulang lebih tinggi lagi.

Saat saya dan Asep amati, biji buah kopi karuhun berukuran  lebih besar walaupun usia buah masih sangat muda. “Biji kopinya lebih besar dari kopi biasa,“ tutur Asep. Ukuran ini seolah melunturkan teori bahwa kopi ini dari jenis buhun atau Arabica yang berumur tua. Kopi yang kami temui ini memang jenis lain.

Pohon Kopi Karuhun Yang Kami Temukan

Menurut Dede, kopi ini justru didapatkan pasca punahnya kopi di tanah Jawa karena karat daun. Artinya kopi ini justru didatangkan ke pulau Jawa dari luar negeri untuk menggantikan varietas kopi jawa yang nyaris punah. Sontak pikiran kamu mengait ke satu nama yaitu varietas kopi Liberika.

Kopi Karuhun dengan Buah Yang Lebih Besar

Liberika adalah salah satu varian tanaman kopi yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Apa itu kopi Liberika? Mengapa liberika sulit ditemukan saat ini? Kopi dengan aromanya yang menyengat seperti buah nangka membuat kopi Liberika sulit memperoleh pangsa pasar lokal.

Selain juga karena hasil komoditasnya yang termasuk jarang, dan boleh dibilang langka. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan aroma kopi Robusta yang memang perkebunan kopinya lebih banyak. Sedikit sekali petani kopi yang mau menanam Kopi Liberika. Kalaupun ada, itu biasanya sebagai selingan diantara tanaman kopi Robusta atau Arabika mereka, dan hasilnya pun untuk konsumsi kalangan sendiri, bukan untuk dijual bebas karena belum banyak pasar yang mau menerima jenis kopi ini.

Kopi Liberika adalah tanaman kopi endemik dari Afrika, tepatnya berasal dari Liberia. Awalnya, tanaman kopi ini digolongkan dalam kelompok kopi Robusta dengan nama ilmiah Coffea canefora var.Liberica. Tetapi pengelompokan paling baru dari para ilmuwan menyatakannya sebagai spesies sendiri dengan nama Coffea liberica

Hal ini karena secara morfologi serta sifat-sifat yang lain tidak sama dengan kopi robusta. Kopi ini dibawa ke Indonesia pada abad ke-19 saat banyak tanaman kopi arabika saat itu terserang penyakit. Daerah yang banyak ditanami jenis kopi Liberika adalah Bengkulu dan Jambi.

Kopi Liberika Saat Tengah Berbunga, dokumentasi

Karena biji dan buah kopi yang masih amat muda sulit bagi kami memastikan apakah kopi yang kami temukan ini dari jenis liberika atau kopi buhun dari jenis Arabica yang bermutasi dalam melawan penyakit dan hama tanaman.

Artinya kami harus datang lagi saat kopi karuhun tersebut bisa dipanen dan lebih baik lagi kalau sudah bisa diseduh dan dinikmati. Artinya Kang Asep dan Mang Dede harus bersiap-siap lagi menemani saya beberapa bulan ke depan saat panen kopi. Panen kopi karuhun. (ferry putra utama)

Leave a Reply

%d bloggers like this: