Kopi Indonesia

By  |  0 Comments

Kopi Indonesia adalah bagian dari sejarah dan masa depan Indonesia

Statistik mencatat, ada 10 negara dan kota yang mempunyai jumlah peminum kopi terbanyak di dunia.  Berturut-turut dari rangking 1 hingga 10 adalah :

  1. Helsinki, Finlandia
  2. Seattle, Amerika Serikat
  3. Oslo, Norwegia
  4. Roma, Italia
  5. Melbourne, Australia
  6. Amsterdam, Belanda
  7. Tokyo, Jepang
  8. Singapura
  9. Seoul, Korea
  10. Kopenhagen, Denmark

Sebagai orang yang meminum sedikitnya 6 gelas kopi perhari, statistik ini cukup mengejutkan saya. Kemana Jakarta dan kota lainnya di Indonesia. Ok, statistik mencatat rata-rata penduduk Finlandia meminum 5 cangkir kopi sehari—dua kali lebih banyak dari konsumsi kopi di seluruh dataran Eropa. Tetapi jumlah penduduk Finlandia hanya 5,439 juta orang (di tahun 2013).

Bandingkan dengan penduduk Jakarta yang mencapai 9,608 juta (di tahun 2010). Satu negara Finlandia saja bisa dikalahkan oleh Jakarta dari sisi jumlah peminum kopi maupun jumlah gelas yang diminumnya. Dengan asumsi rata-rata orang Jakarta minum 2 gelas kopi saja per hari. Padahal banyak juga yang seperti saya, meminum di atas 2 gelas bahkan 3 gelas per hari.

Hitungan itu didapat dari mana? Seorang teman menjawab,”itu kan jumlah gelas kopi yang dikenai pajak.”

Saya sepakat dengan pandangan ini. Karena kebanyakan orang Jakarta minum kopi yang tidak dikenai pajak restoran. Tetapi bukan berarti kopi sachet tidak bisa dihitung kan, karena kopi jenis ini dikenai pajak saat produksi dan distribusinya.

Atau jangan-jangan jumlah kopi yang dihitung adalah kopi murni, sementara kopi yang kebanyakan diminum warga Jakarta dan Indonesia secara luas kemungkinan besar kopi yang sudah terlalu banyak campurannya. Sehingga konsumsi kopinya sebenarnya sangat sedikit dibanding gula, krim perisa,  dan kandungan lainnya yang bukan kopi.

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mencatat bahwa konsumsi kopi orang Indonesia terus naik sejak tahun empat tahun silam. Hal ini terungkap dari hasil survei asosiasi terkait kebutuhan kopi yang naik sebesar 36 persen sejak tahun 2010 hingga 2014.

Anggota Kompartemen Industri dan Kopi Spesialti AEKI Moelyono Soesilo menjelaskan kenaikan tersebut turut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang memicu kemunculan masyarakat kelas menengah. “Masyarakat kelas menengah ini memiliki gaya hidup yang bermacam-macam, salah satunya mengkonsumsi kopi di kedai-kedai kopi modern,” tutur Moelyono.

Menurut data AEKI, pada 2010 konsumsi kopi Indonesia mencapai 800 gram per kapita dengan total kebutuhan kopi mencapai 190 ribu ton. Sedangkan pada 2014, konsumsi kopi Indonesia telah mencapai 1,03 kilogram per kapita dengan kebutuhan kopi mencapai 260 ribu ton.

Bandingkan dengan konsumsi kopi per kapita (satu orang per tahun) dari Finlandia yang mencapai 9,6 kg per kapita. Atau bahkan negara yang jauh lebih kecil Slovenia yang menghabiskan 6,1 kg kopi per kapita. Asumsi saya terbukti. Kopi Indonesia, kopi yang kita konsumsi selama ini, ternyata sangat sedikit kandungan kopinya dibandingkan dengan aksesoris kopi seperti gula, krim dan perisa. Ini yang banyak kita temukan pada kopi sachet (bungkus praktis).

Belum dari sisi ekonominya. Pengonsumsi kopi paling banyak di Amerika, Seattle –yang menghabiskan sekitar $40 setiap bulan demi kopi. Selain sebagai“kota asalnya Starbucks”, Seattle adalah ‘rumah’ bagi coffee house indie (non major label) dan jumlahnya lebih banyak dari daerah manapun di Amerika Utara. Empat puluh dolar Amerika Serikat setara dengan uang Rp 500 ribu lebih per bulannya. Kalau kita pukul rata harga kopi sachet rata-rata Rp 1000. Artinya kita harus minum 500 cangkir kopi setiap bulannya atau  16-17 cangkir per harinya untuk menyamai angka Seattle. Wow.

Angka-angka ini sebenarnya tidak perlu membuat kita frustasi. Meskipun kita tidak menempati peringkat atas peminum kopi dan konsumsi kopi di dunia. Dalam satu kesempatan ngopi bareng, pengusaha dan bakal calon gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan bahwa Kopi Indonesia sudah begitu mengemuka. Pria yang akrab dipanggil Sandi ini menyontohkan kopi Java, Toraja, Mandailing dan Gayo yang sudah mendunia namanya.

Pria penikmat kopi ini berharap bukan hanya brand-brand asing yang berjaya di Jakarta dan Indonesia. Sandi berharap Kopi Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sandi bahkan bercita-cita di setiap tikungan jalan di Jakarta ada kedai Kopi Indonesia.  Kedai Kopi Indonesia bagi Sandi seharusnya bukan hanya menjual Capuccino atau Latte, melainkan menjual Kopi Tubruk yang sudah melegenda.

Bagi Sandi Kopi Indonesia bukan hanya bicara aroma namun juga menyangkut cita rasa yang mampu membawa kita ke alam lain. Menurut Sandi, Kopi Indonesia adalah bagian dari sejarah dan masa depan Indonesia.

Bukan hanya Sandiaga Uno, sejak zaman Bung Karno (Proklamator RI) hingga calon presiden RI Prabowo Subianto adalah penikmat kopi tubruk. Menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti menjadikan kopi sebagai teman di jadwalnya yang padat dan kadang menentang bahaya. Seorang jenderal pejuang 45, TB Simatupang lahir di ladang kopi. Seorang jenderal polisi purnawirawan, Yusuf Manggabarani telah terjun ke bisnis kopi. Berbagai varian kopi, jenis kedai kopi dan komunitas kopi ada dan besar di Indonesia. Indonesia seharusnya menjadi komunitas peminum kopi dan pengonsumsi kopi terbesar di Indonesia. Kopi Indonesia seharusnya merajai pasar dunia.

Meminjam momen dan istilah yang dipergunakan Bung Karno saat berpidato di sidang dewan keamanan PBB, “Indonesia Menggugat”, kita harus menggugat sekarang juga. Bukan menggugat orang lain atau kartel kopi dunia tetapi yang kita gugat adalah diri kita sendiri. Ini saatnya merdeka, saatnya menentukan sikap, saatnya Kopi Indonesia. Tidak lagi MERDEKA ATAOE MATI, sekarang MERDEKA ITOE NGOPI. Kopi Indonesia.

Kami hadirkan untuk sahabat rasakopi.com SPESIAL EDISI 71 TAHUN KEMERDEKAAN RI

(Redaksi rasakopi.com)

Leave a Reply

%d bloggers like this: