Mempersingkat Mata Perdagangan Kopi Lewat Koperasi

By  |  0 Comments

PADANG (Gatra) – Indonesia sebagai negara penghasil kopi memiliki beragam cita rasa yang tidak kalah nikmat dengan kopi negara lain. Jika lidah penikmat dan pecandu kopi Indonesia sudah terbiasa dengan rasa kopi Gayo, Manggarai, Toraja, atau Mandailing, tidak ada salahnya mencicipi arabika Solok Radjo yang sensasi rasanya begitu nikmat dan beraromakan rempah.

Akhir-akhir ini nama Solok Radjo terus melesit hingga mancanegara, bahkan di setiap event, Solok Radjo tidak ketinggalan dihadirkan barista ternama. Rasa kopi Solok Radjo yang khas, menjadikannya masuk dalam daftar sederetan kopi yang dilirik pecinta kopi nusantara maupun dunia. Munculnya brand Solok Radjo dalam adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2), sebagai bukti dari menggeliatnya industri kopi Sumbar dalam menjalin sinergi antara petani dengan kalangan anak muda melalui Koperasi Solok Radjo.

Koperasi Solok Radjo terletak di Nagari Aie Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Lokasi bisa ditempuh menggunakan jalur darat, dengan perjalanan kurang lebih selama tiga jam dari Kota Padang, ibu kota Sumbar.

Salah satu pengurus Koperasi Solok Radjo, Windy menyatakan, Koperasi Solok Radjo dibuat untuk mengurusi produksi dan pemasaran green bean alias biji kopi dari petani. Selain itu juga untuk menghidupkan kembali industri kopi di Sumbar yang telah lama tertidur. Mereka sengaja fokus melayani langsung untuk end user demi harga jual lebih baik. Paling mendasar untuk mempersingkat panjangnya mata rantai perdagangan kopi yang selama ini terus menekan harga kopi di tingkat petani.

Tidak sebandingnya harga biji kopi dengan harga kopi yang ada di pasar nasional sudah menjadi makanan sehari-hari petani. Bahkan ada juga petani kopi yang sadar akan harga jual, tetapi masih menjual biji kopi kepada tengkulak atau pengepul dengan harga murah. Mengapa? Karena mereka berasumsi, kepada siapa lagi mereka akan menjual biji kopi yang sudah dirawat berbulan-bulan.

Hadirnya Koperasi Solok Radjo  karena kegelisahan anak muda asal Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Aldriansyah dan rekan-rekan dengan nilai beli kopi di petani begitu murah. “Nilai jual biji kopi saat itu ditingkat petani hanya Rp2.500 per kg. Nagari Aia Dingin sebagai produsen kopi di Sumatera Barat, tapi tidak diimbangi dengan harga yang layak untuk petani,” ucap dia.

Murahnya harga yang didapatkan petani tidak mampu untuk mencukupi upah panen, hingga akhirnya banyak petani di Lembah Gumanti menebang pohon kopi dan menggantinya dengan komoditas lain. Pada 2011, Aldriansyah seorang lulusan Universitas Andalas, memulai proyek dengan dosennya untuk memperkenalkan arabika Solok ke lidah masyarakat lebih luas dan memasarkannya hingga tingkat nasonal maupun internasional.

Aldriansyah duduk dan berembuk dengan petani dan membentuk sebuah koperasi. Tujuannya untuk memutus panjangnya mata rantai perdagangan kopi di Sumatera Barat, guna mengangkat harga di tingkat petani. Kini koperasi itu sudah beranggotakan lebih dari 800 petani untuk dibina agar menghasilkan biji kopi yang berkualitas.

Aie Dingin adalah salah satu desa di Provinsi Sumatera Barat yang sangat cocok sebagai daerah pengembangan kopi jenis arabika karena ketinggiannya mencapai 1.600 meter di atas permukaan air laut (MDPL).

Kini Koperasi Solok Radjo sebagai wadah bagi petani untuk menjual hasil perkebunannya. Koperasi ini menaungi petani kopi yang ada di tiga kecamatan, diantaranya Lembah Gumanti, Lembah Jaya, dan Danau Kembar. Petani dapat mengantarkannya langsung ke koperasi hasil panennya dengan nilai beli senilai Rp8.000/kg berupa biji kopi.

Koperasi Solok Radjo juga menjadi penyeimbang harga pasar. Dengan demikian harga kopi yang dijual oleh petani tidak terlalu ekstrem mengalami penurunan harga ataupun di sebagian daerah mengalami kenaikan harga. Menstabilkan harga pasar kopi sangat membantu untuk para petani kopi.

Kehadiran koperasi ini juga membantu petani kopi sekitar Lembah Gumanti dalam hal edukasi. Bagaimana masa tanam yang baik, bagaimana masa panen, dan hal-hal tentang tanaman kopi.

Tidak hanya sebagai wadah edukasi, koperasi ini juga sebagai jembatan dari kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertanian, khususnya untuk tanaman kopi yang terkendala distribusinya karena tidak ada yang menjamin penyalurannya. Sering kali penyaluran bantuan subsidi seperti bibit, pupuk, bahkan mesin, mengharuskan petani tergabung dulu dalam koperasi. Harapannya bisa memudahkan pemerintah dalam hal penyaluran subsidi.

Koperasi Solok Radjo mengolah biji kopi menjadi green beans dengan beberapa metode atau proses pengolahan. Di antaranya natural, honey, dan fullywashed. Untuk proses pengolahan natural, kopi yang sudah dicuci dan ditiriskan diproses lebih lanjut dengan penjemuran. Pada proses ini biji kopi yang sudah ditiriskan usai dicuci akan langsung dijemur dengan konsep greenhouse selama beberapa minggu. Pengeringan dengan konsep ini lebih stabil dengan menyerap panas

Sedangkan proses pengolahan jenis honey, kopi akan dicuci lalu ditiriskan, dan kulit biji kopi dikupas terlebih dahulu. Hingga menghasilkan biji kopi yang agak berlendir yang langsung dikeringkan tanpa fermentasi. “Saat mengering akan berkaramel, dan menimbulkan rasa tertentu saat diseruput,” jelasnya.

Sementara pengolahan fullywashed akan melewati proses fermentasi setelah pengupasan kulit dari biji. Tujuannya membersihkan lendir-lendir. Pasalnya, lendir-lendir pada biji kopi memberikan efek rasa-rasa tertentu. Proses pengolahan fullywashed adalah proses pengolahan kopi yang bertujuan agar si kopi yang dihasilkan tidak terkena rasa lain-lain.

Semenjak dikenalkannya arabika Solok Radjo di festival-festival kopi yang digelar di Indonesia maupun luar negeri, nama Arabika Solok Radjo semakin dikenal dan dilirik pencinta kopi. Permintaan green bean arabika Solok Radjo terus berdatangan dari perusahaan-perusahaan dalam negeri maupun luar negeri. Tentunya ini menjadi penyemangat petani kopi Kabupaten Solok untuk lebih serius menggarap dan merawat kebun kopinya agar kualitasnya mampu bersaing hingga mancanegara.

Untuk menghasilkan kopi berkualitas tinggi, tanaman harus dirawat secara telaten. Mulai dari pemupukan hingga perawatan khusus, seperti jarak tanam dan juga pemangkasan. Lalu kopi yang dipanen harus benar-benar matang. Sebab jika bercampur dengan kopi yang masih muda atau kehijauan, kualitasnya akan turun.

“Permintaan konsumen sudah banyak. Namun belum bisa dipenuhi lantaran masih terbatasnya luas perkebunan,” jelas Windy.

Permintaan green bean arabika terus berdatangan dari kota-kota besar di Indonesia, bahkan menjajal hingga pasar Amerika Serikat, Taiwan, dan Singapura. Koperasi Solok Radjo sudah memulai kerja sama dengan perusahaan AS pada tahun lalu. Mereka sudah mengekspor green bean arabika sebanyak 18 ton dan 4,5 ton ke Taiwan sebagai kerja sama tahap awal.

Dinas Pertanian Kabupaten Solok mencatat produksi kopi arabika di Kabupaten Solok pada 2018 sebesar 657,77 ton dengan luas area tanam seluas 6.630 hektare (Ha). Pemerintah daerah setempat semakin mantap untuk mengembangkan kopi arabika karena memiliki pangsa pasar yang sangat luas untuk diekspor. Selain itu nilai jualnya juga lebih tinggi dibandingkan robusta.

Untuk peningkatan jumlah produksi guna memenuhi permintaan pasar, Kabupaten Solok bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk pengembangan kopi arabika. Selain itu Pemerintah Daerah (Pemda) mengajukan pinjam pakai lahan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk penanaman kopi arabika untuk penambahan jumlah area tanam seluas 7.000 Ha di Kecamatan Lembah Gumanti, Pantai Cermin, dan Hiliran Gumanti dengan sistem agroforestri.

Leave a Reply

%d bloggers like this: