Ngopi Sambil Diskusi Di Warung Jadul ‘Mbah Cokro’

By  |  0 Comments

Sahabat rasakopi.com sepertinya perlu singgah ke tempat ini, sebuah warung kopi gaya jadul (jaman dulu) bernama Mbah Cokro. Bertempat di Jalan Raya Prapen 22, Surabaya, Jawa Timur, tempat ini selalu ramai di tiap malamnya yang didominasi oleh kalangan remaja terutama mahasiswa. Mereka berdatangan sejak pukul 18.00 WIB hingga malam hari bahkan dinihari.

Sumber: www.diarysivika.com

Terdapat menu sederhana, ada nasi kucing dibungkus daun pisang, kopi, wedang jahe dan wedang tape sebagai minuman utama. Dekorasi warung dibuat seperti suasana tempo dulu. Simbol-simbol yang berada di warung jadul ini juga bernuansa zaman pra kemerdekaan. Tulisan-tulisan yang menempel pada warung menggunakan ejaan lama, seperti tulisan Waroeng Rakjat dan sebagainya.

Sumber: www.diarysivika.com

Sumber: indonesiaenterpreneur.blogspot.com

Nama Mbak Cokro sendiri konon diambil dari nama pejuang kemerdekaan HOS. Tjokroaminoto. Dan pengelolanya adalah mahasiswa dari beberapa perkumpulan foto dan berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

Seperti malam ini saya hadir memenuhi undangan komunitas fotografi yang selama ini menjadi tempat saya belajar AFO (Aktifitas Fotografi) Surabaya. Hanya dengan beralaskan tikar atau lebih tepat terpal bekas spanduk, kami berdiskusi dan bercengkerama dengan gayengnya (menyenangkan). Menu yang saya pesan malam itu adalah wedang jahe. Wedang jahe dalam bahasa surabaya berarti air panas yang dicampur dengan jahe. Sementara sebagian yang lain memesan wedang kopi atau air panas yang dicampur dengan kopi. Menariknya, wedang tersebut tidak menggunakan gelas atau cangkir, namun gelas kaleng kuno.

Sumber: Aktifitas Fotografi (AFO)

Sumber: Aktifitas Fotografi (AFO)

Sesekali dalam diskusi saya terusik pada dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu, tertempel poster-poster film zaman dulu, seperti Menggapai Matahari-nya Rhoma Irama, piringan hitam, kamera layar tancap, radio kuno, mesin jahit dipadu bendera seolah menggambarkan suasana saat Ibu Fatmawati tengah menjahit Sang Saka Merah Putih. Juga terdapat potongan-potongan koran-koran zaman kuno salah satunya Harian Manifesto. Menarik..

Sumber: hellosurabaya.com

Pelayannya juga mengenakan pakaian unik. Ada pakai seragam Hansip dengan nama Semaun, Alimin serta tokoh-tokoh pergerakan nasional di zaman pra kemerdekaan.

Warung ini dibangun dari potongan bambu dengan perabotan khas zaman kuno. Mulai meja-kursi dari bambu, gelas dari seng (pelat tipis), kendi dan beberapa perabotan zaman kuno. Karena suasana klasik dan nyaman untuk kongkow di waktu malam itu, warung Mbah Cokro cepat dikenal di Surabaya, meski resmi dibuka pada bulan Ramadan tahun ini. Setiap hari, warung Mbah Cokro buka pukul 16.00 WIB hingga dini hari.

Sumber: bicarasurabaya.com

Di sudut bagian dalam saya melihat sekumpulan anak muda yang sedang berdiskusi dengan menggunakan pengeras suara. Samar-samar terdengar bahwa diskusi yang diangkat bertemakan tentang pendidikan di Indonesia. Ternyata di warung Mbah Cokro kerap dijadikan tempat tongkrongan para alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Stikosa-AWS, seniman dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS), wartawan, dan Club CB, warung Mbah Cokro juga kerap dijadikan tempat diskusi. Mulai diskusi foto, pemutaran film, ilmu pengetahuan dengan mendatangkan nara sumber dari luar kota, warung yang asalnya didirikan di kawasan Waru, Sidoarjo ini, makin menarik minat pengunjung di Kota Surabaya. Maju teruusss, semangat berjuang Mbah Cokro.(ASA)

Sumber: http://www.merdeka.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: