Tatkala Sidang Berubah Jadi Kedai Kopi, Wawancara Sandy Salihin

By  |  0 Comments
sandy2

Made Sandy Salihin Di Persidangan

Made Sandy Salihin duduk di kursi paling depan pengadilan, agak serong di seberang Jessica Kumala Wongso. Dia terus menatap Jessica hingga perempuan itu mengalihkan wajah. Ketidaksukaan Sandy terhadap teman kakaknya tersebut memang sudah maksimum. “Mengaku teman tapi tidak datang saat Mirna dikubur,” kata Sandy dengan mata yang merah menahan marah.

sandy1

Sandy Di Persidangan

Sidang di akhir bulan Juli itu mengubah ruang sidang menjadi kedai kopi. Hakim meminta posisi duduk Jessica, Wayan Mirna Salihin dan Hani Juwita Boon direkonstruksi. Sebuah meja diletakkan di tengah persidangan dengan 4 kursi yang disusun setengah melingkar. “Enggak sangka Mirna meninggal karena es kopi Vietnam,” Sandy berujar.

sandy7

Seminggu sebelum kematiannya Mirna juga memesan menu yang sama ketika datang dengan Sandy dan Ibunya, Ni Ketut Sianty ke kedai kopi yang juga sama: Olivier Cafe. Ketika itu sang Ibu merekam cara pramusaji Olivier menuangkan es kopi Vietnam untuk Mirna. “Saya enggak tahu kalau itu pertanda,” katanya.

Rabu itu 6 Januari 2016, saat saudara kembarnya meninggal, adalah hari yang biasa saja bagi Sandy. Seingat dia pundaknya terasa sakit dan memang belum kunjung sembuh selama tiga hari. Tapi ia sempat masuk kerja walau pulang lebih awal.

sandy5

Sandy Bersama Suami Mirna Saat Diperiksa di Polda Metro Jaya

Sandy mengaku dalam suasana hati yang baik meski sakit. Namun semuanya berubah ketika ada telepon masuk dari Arief Sumarko, suami Mirna. Arief menyebut Mirna pingsan. Tak lama kemudian, saat Sandy dan Ibunya tengah jalan ke rumah sakit, Arief mengabarkan Mirna meninggal.

Polisi menyatakan Mirna meninggal karena kopinya mengandung sianida, zat beracun.

sandy6

Ungkapan Sandy Ke Jessica Di Media Sosial

Kasus kematian Mirna pun menyita perhatian publik. Sidangnya bahkan diliput langsung beberapa saluran televisi dan masih bergulir hingga hari ini. “Sudah jelas kok pelakunya, kenapa hakim belum ketok palu,” kata Sandy merujuk kepada Jessica.

Bagaimanakah pandangan Sandy atas kasus ini? Bagaimana dia memandang Jessica? Dan bagaimana juga kenangannya atas Wayan Mirna Salihin? Berikut wawancara Heru Triyono dari beritagar dengan Sandy Salihin seputar jalannya persidangan dan sikap Sandy atas Jessica. Wawancara ini tidak bertujuan mempengaruhi fakta dan jalannya persidangan.

sandy9

Wayan Mirna Salihin Bersama Suami

Bagaimana seandainya pengadilan memutuskan Jessica bebas dari jeratan hukum?
Tidak terima banget lah. Aku berharap hakim bisa melihat kebenaran.

Menurut Anda proses pengadilan sampai saat ini berjalan adil dan objektif?
Aku berserah saja terhadap hakim dan jaksa. Mereka bisa melihat mana benar dan mana salah. Keluarga sudah lelah menunggu lama persidangan ini.

Terbayang sebelumnya bahwa proses persidangan akan begitu panjang dan melelahkan, seperti sinetron…
Aku tidak mengerti soal hukum ya. Tapi menurut aku sidangnya berbelit-belit. Pengacara Jessica memang pintar, mereka yang membuat sidang jadi lama.

sandy3

Sandy Ditanyai Awak Media

Pengacara Jessica sebut belum ada bukti kuat Jessica adalah pembunuh Mirna?
Pekerjaan mereka kan membela kliennya. Apapun akan mereka lakukan. Bahkan mereka menyatakan Arief (suami Mirna) memberi uang Rp140 juta ke barista. Kurang ajar dia (pengacara).

Soalnya aku tahu betul sifat Arief yang sudah menjalin hubungan selama 9 tahun dengan kakak aku. Tidak mungkin. Papa juga dituduh jual anak dengan motif asuransi.

Soal asuransi itu, kok bisa muncul isu asuransi jiwa jutaan dolar di balik kematian Mirna?
Aku juga enggak tahu. Asuransi jiwa atas nama Mirna dalam jumlah besar adalah isu konyol. Papa sayang sama aku dan Mirna. Ngapain capek-capek datang di setiap sidang, malah sampai sakit. Mereka (pengacara Jessica) enggak pernah merasakan bagaimana saudaranya dibunuh. Orang ini (Jessica) jahat banget ya.

Sejak awal kematian Mirna keluarga telah curiga dengan Jessica…
Keluarga tidak mungkin menuduh orang tanpa alasan. Kami mencurigai berdasarkan kejanggalan. Untuk apa Jessica memakai sebelas pengacara kalau memang tidak bersalah, seperti kesebelasan (bola) saja. Jessica kan bisa menjelaskan ke kami secara kekeluargaan tanpa proses pengadilan jika memang dia benar.

Kami pun awalnya menunggu. Tapi Jessica yang tidak datang selama dua hari–setelah Mirna meninggal. Bahkan dia juga enggak datang saat Mirna dikubur. Apa itu yang disebut teman? Saya bingung, kenapa dia setakut itu untuk datang. Apa sih yang disimpan?

sandy8

Sandy Bersama Arief Suami Mirna

Anda sendiri mengenal Jessica secara personal?

Kenal tapi tidak dekat. Dia kan temannya Mirna, yang kebetulan satu kampus juga dengan aku di Billy Blue College Australia. Bisa dihitung dengan jari kok pertemuan aku dengan dia. Terakhir adalah saat acara ulang tahun Mirna dan aku di Blue Elephant Menteng tahun 2011.

Saat itu Mirna yang mengundang Jessica untuk datang?
Iya, Mirna mengundangnya. Saat itu adalah kedua kalinya aku bertemu Jessica, sebelumnya di Australia, ya selanjutnya di Rumah Sakit Abdi Waluyo.

Apa sikap Jessica yang menurut Anda mencurigakan saat di rumah sakit?
Dia tidak panik. Berbeda dengan Hani, yang di depan aku nangis-nangis. Saat itu suami aku dan Jessica sempat disuruh Papa kembali ke Olivier untuk minta sampel es kopi Vietnam. Ya asumsi awal kita kan Mirna tidak diracun, jadi Papa penasaran dengan es kopi itu.

Saat dalam perjalanan, suami aku tanya-tanya ke Jessica soal meninggalnya Mirna. Tapi Jessica mengaku mengalami serangan asma mendadak sehingga pertanyaan suami aku tidak terjawab.

Selain Jessica, siapa yang Anda curigai saat di rumah sakit itu?
Hampir semua orang ya, termasuk Hani, apalagi sama Jessica.

Arief?
Kalau sama Arief enggak. Saya tahu betul bagaimana sifatnya. Dia dan Mirna adalah soulmate. Saya tahu garis besar kronologi kejadian dari Hani. Dia bilang Jessica yang memesan kopi buat Mirna. Hani juga ingat selain kopi itu ada dua cocktail entah bekas siapa di atas meja.

Setelah minum Mirna kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Sampai di klinik sebenarnya Mirna masih bernapas. Dokter menyarankan segera dibawa ke rumah sakit karena kondisinya parah. Saat aku di rumah sakit busa itu masih menempel di bibirnya, warna hitam. Aku tidak tega melihatnya saat akan autopsi.

Kenapa awalnya keluarga menolak jasad Mirna diautopsi?
Arief sama Mirna kan baru menikah sebulan. Kasihan kalau Mirnanya dibedah-bedah. Lagi pula awalnya keluarga tidak tahu Mirna meninggal karena diracun. Kita belum mau sampai akhirnya Pak Krisna Murti memberi tahu Mirna meninggal karena Sianida. Itu kejam banget, tapi Jessica kok tampak tenang-tenang saja.

Mungkin respon orang terhadap kejadian berbeda-beda sehingga Jessica tidak panik atau menangis…
Yang pasti saya lebih percaya Hani. Dia yang mengusap busa kopi yang keluar tanpa henti dari mulut Mirna. Menurut Arief, Hani juga yang memegang kepala Mirna sampai klinik. Dia tidak terlalu percaya Jessica.

Kenapa Arief sepertinya langsung tidak suka dengan Jessica, ada kecurigaan apa?
Nah itu dia. Arief tahu Mirna adalah tipe orang yang tidak pernah mau dipesenin. Logika saja deh, kalau niat traktir ngapain menunggu satu jam di situ dan duluan memesan. Kalau traktir ya biarkan dong yang ditraktir memesan sendiri.

Tapi kan Mirna sendiri yang memesan es kopi itu kepada Jessica?
Semuanya ada di grup Whatsapp. Yang saya baca, Jessica bertanya ke Mirna mau pesan apa. Mirna sudah bilang ke Jessica kalau pesannya nanti saja. Tapi Jessica bertanya lagi saat sudah sampai Olivier. Secara tidak langsung kan Jessica ini maksa Mirna memesan. Mau enggak mau akhirnya diiyakan sama Mirna.

Yang pilih Olivier ini siapa?
Jessica lah.

sandy10

Jessica Kumala Wongso

Anda begitu yakin Jessica yang merencanakan kematian Mirna…
Saya yakin banget, pasti. Karena siapa lagi? Dia yang satu jam di sana dan CCTV membuka kedoknya tuh. Kopi panas juga jadi tidak enak kalau jadi dingin.

Tapi yang dipesan Mirna adalah es kopi?
Mau itu minuman dingin atau panas tetap jadi enggak enak kalau diminum satu jam kemudian. Kok sepertinya siap banget memesan minuman untuk teman sendiri. Malah pakai close bill segala. Kalau mau close bill mending dibawa pulang saja. Takut ya temannya pesan lagi. Pelit banget membunuh hanya modal segelas kopi. Cewek itu banyak ngemil lho.

Bisa jadi yang mentraktir tetap membolehkan temannya memesan makanan tambahan setelah close bill itu…
Itu yang aneh juga. Soalnya kan selesai close bill pesanan kopinya jadi enggak terdeteksi. Jessica sepertinya kaget kalau Mirna ternyata meninggal lebih cepat karena sianida. Padahal kalau sempat memesan menu lain lagi, pesanan kopi itu akan tertutup, sehingga orang tidak curiga dengan es kopinya. Tidak ada kejahatan sempurna.

Versi ahli pihak Jessica menyatakan Mirna bisa jadi tidak terpapar Sianida?
Itu pendapat mereka. Saya lebih percaya saksi ahli yang menyatakan bahwa bubuk sianida itu ada di sedotan. Karena kalau sianida dimasukkan ke air maka baunya akan tercium tidak enak. Jessica melakukannya saat bolak balik ke Olivier–sebelum Mirna datang. Mungkin saja dia menaruh bubuknya ke sedotan di toilet. Apalagi di toilet tidak ada CCTV.

Saat itu Hani sempat mencoba minuman Mirna dan tidak terjadi apa-apa…
Hani mencoba sedikit dan merasa kebas doang. Karena kandungannya sudah tidak ada.

Sempat berkomunikasi dengan Jessica saat di rumah sakit?
Jessica sempat meminta nomor telepon saya. Dia ingin tahu hasil cairan lambung Mirna. Besoknya dia kirim pesan ke aku untuk menanyakan hasilnya. Aku belum sempat jawab sampai tanggal 9 Januari karena aku sibuk urus tamu. Yang saya sesalkan kenapa Jessica tidak datang ke rumah.

Di media Jessica bilang sedang sakit kan…
Kalau sakit sepertinya riwayat kesehatannya baik-baik saja. Coba cek ke rumah sakit mana dia saat itu untuk berobat. Kalau pun asma harusnya dia selalu sedia inhaler (obat hirup untuk asma). Ini kan enggak. Hani dan aku mulai curiga.

Sebenarnya sedekat apa Mirna dan Jessica, apakah Mirna pernah curhat tentangnya…
Enggak pernah. Kalau tentang Hani sering.

Bukankah di Australia Mirna cukup lama mengenal Jessica?
Memang. Tapi tidak sedekat Mirna ke Hani dan Vera. Jessica ke Jakarta kalau pas libur saja. Dia itu berstatus permanent resident di sana (Australia). Kebetulan Mirna sering bolak balik ke Australia karena ada adik yang sekolah di sana.

Dalam rangka apa Mirna bertemu dengan Jessica di Australia?
Ya bertemu saja. Mirna memang sering ajak teman lamanya nongkrong. Teman yang aneh pun diajak sama dia. Kalau saya lebih selektif atau milih-milih. Makanya teman Mirna itu banyak.

Bagaimana Anda menggambarkan hubungan Mirna dengan teman-temannya?
Dia itu jutek, judes dan blak-blakan. Aku saja sering dimarahi kalau salah.

Mungkin enggak karena sifat judes itu Jessica tersakiti oleh omongan Mirna?
Itu mungkin karena tidak semua orang bisa terima perkataan Mirna. Kalau memberi tahu orang Mirna suka menusuk. Tapi teman-temannya mengerti karena dia kasih tahu buat yang terbaik.

Pernah mendengar bahwa Mirna memiliki masalah dengan Jessica?
Arief pernah cerita kalau Jessica tidak terima dengan perkataan Mirna soal pacarnya. Mirna bilang pacarnya tidak jelas karena pecandu narkoba dan tukang pinjam duit. Karena perkataan itu Jessica berdiri dan pergi dari hadapan Mirna. Padahal keduanya sedang makan.

Tapi kalau lihat chat-nya di Whatsapp, Mirna dan Jessica cukup akrab sampai ada emoticon ciuman segala…
Papa sepertinya salah menafsirkan ya soal emoticon ciuman itu. Setahu saya Mirna salah pencet saja. Kemudian dibalas Jessica yang meminta ciuman ke Mirna. Itu bercandaan sesama perempuan doang.

Menurut Anda ada indikasi bahwa Jessica suka sama Mirna?
Pertama saya berpikir begitu, tapi lama-lama sih enggak.

Lalu kenapa Jessica tidak diundang ke pernikahan Mirna?
Mirna sempat mencari kontaknya. Tapi kan Jessica tidak punya Facebook, Twitter atau Instagram, sehingga susah mengundangnya. Sebagai kembarannya aku tahu betul saat itu Mirna sibuk mendesain rangkaian bunga pernikahannya sendiri. Dia begitu kreatif.

Tidak ada firasat sebelum dia meninggal?
Saya sempat sakit parah. Pundak mendadak sakit selama tiga hari dan tidak bisa sembuh meski sudah ke dokter. Mama saya sampai bingung. Tapi tidak menganggap itu pertanda.

Apa obrolan terakhir sama Mirna sebelum dia pergi…
Dia bilang kangen mau bertemu anak saya. Di hari dia meninggal harusnya kami bertemu. Karena dia ada rapat jadi pertemuan ditunda. Kalau secara fisik, saya terakhir bertemu dia ketika makan bareng di sebuah restoran. Ya makan biasa saja, tidak ada firasat dia meninggal dan dibunuh temannya sendiri. Rasanya setengah dari diri aku telah pergi.

Memori yang paling diingat bersama Mirna?
Banyak banget. Kami melakukan segalanya bersama-sama. Kami adalah teman terbaik dan sering nongkrong bareng juga. Sedih kalau mengingat dia sudah tidak ada. Anak aku jadi tidak ada temannya deh. Padahal Mirna sudah menyusun nama-nama anaknya di komputer.

Anda berdua sering nongkrong ke Olivier?
Kami sempat ke Olivier seminggu sebelum Mirna meninggal sama Mama. Ya saat itu mau mencoba kafe baru saja. Aku ingat banget Mirna pesan es kopi yang sama di Olivier Cafe seminggu sebelum kematiannya. Tapi Mama dan aku tidak tahu bahwa itu adalah pertanda. Bahkan Mama sempat merekam pramusajinya saat sedang menuangkan es kopi Vietnam. Sebuah kebetulan.

Mirna memang suka dengan es kopi Vietnam?
Ya dia suka mencoba hal baru. Termasuk mengunjungi kafe itu. Tapi dia bergaya hidup sehat. Beda dengan aku yang saat hamil masih saja minum kopi. Kalau dia doyan banget makan sayur dan buah.

Masih kuat untuk hadir terus dalam sidang yang panjang ini?
Saya kuat karena melihat foto Mirna di peti jenazah. Saya ingin mencari keadilan untuk kakak saya.

(Heru Triyono/beritagar)

Leave a Reply

%d bloggers like this: